Oleh: Dr. Hairul Fauzi, S.Pd.I., M.Pd.
Dekan Fakultas Pendidikan Islam dan Keguruan Universitas Islam An-Nadwah Kuala Tungkal
Ketika membahas madrasah sering muncul dua pandangan yang berseberangan. Pertama, madrasah dipandang sebagai benteng pembentukan karakter dan moral bangsa. Kedua, ada yang beranggapan bahwa madrasah masih tertinggal dibandingkan sekolah umum dalam kualitas akademik, inovasi, dan daya saing. Padahal, fakta di lapangan tidak sedikit madrasah yang telah membuktikan diri melahirkan lulusan berprestasi tinggi yang mampu bersaing baik secara nasional maupun internasional.
Karenanya, persoalan sesungguhnya bukan lagi mempertanyakan apakah madrasah dapat menjadi unggul atau tidak. Tetapi, yang lebih penting adalah mengapa sebagian madrasah mampu berkembang dengan pesat, sementara sebagian lainnya berjalan di tempat atau stagnan. Hal ini penyebabnya bukan semata-mata soal besaran anggaran, megahnya bangunan, atau banyaknya siswa, melainkan juga terkait seberapa baik tata kelola yang dijalankan.
Dengan kecepatan perkembangan zaman dan ditambah dengan tuntutan kompetensi abad ke-21, kualitas lembaga pendidikan tidak lagi bergantung pada sumber daya yang mereka miliki tetapi lebih pada seberapa baik mereka mengelola lembaga tersebut. Tata kelola yang baik memudahkan lembaga untuk melihat perubahan sebagai peluang daripada ancaman dan bertindak secara kreatif dan positif terhadap perubahan tersebut.
Sayangnya, tata kelola di sebagian madrasah masih terbelenggu oleh rutinitas administratif. Rencana strategis seringkali hanya sebatas dokumen formal. Evaluasi dilakukan sebatas memenuhi kewajiban, bukan sebagai instrumen perbaikan. Banyak keputusan penting diambil berdasarkan tradisi, bukan berdasarkan keputusan yang didasarkan pada bukti dan data yang relevan. Akibatnya, berbagai program berjalan tanpa arah yang jelas serta sulit menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.
Padahal, tata kelola lebih dari sekadar mengelola aktivitas. Tata kelola adalah kemampuan menyatukan seluruh sumber daya agar bergerak menuju tujuan yang sama. Pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, alokasi anggaran, pelayanan terhadap siswa, serta kerja sama dengan masyarakat harus dilakukan secara bersama dan terpadu agar mencapai tujuan yang sama dan sejalan. Di sinilah tata kelola menjadi dasar utama dari lembaga bermutu.
Kepala madrasah tidak terbatas sebagai seorang administrator. Kepala madrasah diharapkan menjadi pemimpin transformasional yang mampu mengembangkan visi bersama, kepercayaan, dan kolaborasi, serta mengembangkan budaya kerja yang optimal. Berbagai studi menunjukkan bahwa faktor paling penting dalam mencapai perbaikan sistem pendidikan adalah kualitas kepemimpinan dalam institusi, karena kepemimpinan mempengaruhi budaya dalam organisasi dan kualitas pembelajaran yang berlangsung di dalamnya (Leithwood, Harris, & Hopkins, 2020).
Namun, kepemimpinan yang kuat menjadi bermakna ketika selaras dengan budaya yang kuat. Budaya yang kuat terbentuk ketika setiap orang di madrasah selalu berusaha meningkatkan diri secara berkelanjutan. Guru-guru dilatih, dan staf terus meningkatkan pelayanannya. Siswa dilatih untuk belajar berpikir kritis dan kreatif, serta pemimpin mengintegrasikan evaluasi dalam proses membentuk budaya belajar. Peter Senge (2006) menyebut organisasi semacam ini sebagai learning organization, yakni organisasi yang terus berkembang karena mampu belajar dari pengalaman, melakukan refleksi, serta beradaptasi dengan perubahan secara berkelanjutan.
Madrasah tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang religius atau sukses akademik. Dunia menuntut generasi yang berbudaya dan berkarakter; generasi dengan pemikiran kritis dan konstruktif dan generasi yang mampu bekerja dalam tim serta terampil dalam penggunaan teknologi. Pada titik ini, madrasah berada dalam posisi unik yang sulit ditiru oleh sistem pendidikan lain, yaitu kemampuan untuk mengintegrasikan pendidikan intelektual, moral, dan religius. Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah. Salah satu fokus utama dari Rencana Strategis Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2025–2029 menempatkan penguatan tata kelola, peningkatan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan, percepatan transformasi digital, serta peningkatan mutu lulusan sebagai bagian dari prioritas strategis pembangunan pendidikan Islam. Hal ini diarahkan untuk mewujudkan layanan pendidikan yang berkualitas, adaptif terhadap perkembangan zaman, dan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang unggul.
Madrasah juga tidak dapat berkembang sendirian, diperlukan jejaring kolaborasi, kemitraan dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi profesi, komunitas, dan alumni, semakin luas jejaring yang dimiliki, semakin besar peluang madrasah untuk berinovasi.
Membangun madrasah unggul merupakan proses panjang yang menuntut visi, konsistensi, dan keberanian melakukan perubahan. Gedung baru tidak otomatis menghadirkan mutu, kurikulum baru tidak serta-merta melahirkan lulusan berkualitas. Bahkan teknologi paling mutakhir pun tidak akan membawa perubahan apabila masih dikelola dengan pola pikir lama.
Pembenahan manajemen harus menjadi langkah awal dalam mengubah madrasah dengan mengelola secara baik, madrasah bisa memiliki kepemimpinan yang tangguh. Selain itu, manajemen yang baik juga bisa menciptakan budaya mutu yang berkelanjutan, pengambilan keputusan berdasarkan data, dan inovasi yang terus berkembang. Jika semua faktor ini bergerak dalam arah yang sama, madrasah bisa menjadi bagian yang penting dalam sistem pendidikan negara. Madrasah juga bisa menjadi lembaga yang mampu memberikan pendidikan yang baik tanpa menghilangkan ciri khas keislamannya. Oleh karena itu, transformasi madrasah bisa menghasilkan perubahan yang besar.
Sudah saatnya kita berhenti meragukan kemampuan madrasah untuk mencapai status “unggul”. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap madrasah memiliki akses untuk dijalankan dengan profesional. Pasalnya, madrasah unggul bukan sekadar mimpi belaka. Ia tercipta karena manajemen yang kuat, kepemimpinan dengan tujuan jelas, serta semangat untuk terus memperbaiki diri.




Discussion about this post